CERITA ANAK KOST

14 Agu

Inilah sepenggal cerita tentang sebuah kehidupan baru yang saya alami, yang juga dirasakan oleh ratusan bahkan ribuan anak kost lainnya. Sebuah kehidupan yang menurut sebagian orang begitu membosankan. Tapi tidak sepenuhnya pernyataan itu benar, karena dibalik segala kebosanan yang diawal-awal kita rasakan sebagai anak kost, ada berbagai hal menyenangkan yang mungkin tidak bisa kita rasakan jika tidak menjadi anak kost.

Kini ku berkeliaran di kota orang demi mengejar mimpi dan cita-cita.  Memulai kehidupan sebagai anak kost yang serba sendiri, tanpa bantuan siapapun, tanpa bantuan keluarga dan sanak saudara. Kehidupan benar-benar kita yang tentukan dan harus diputuskan sendiri. Merantau jauh dari kota kelahiran dan berharap bisa menjadi pribadi baru saat kembali nanti.

Saat berada di dalam ruangan berukuran 2×1,5 m yang bernama “KAMAR KOST”, aku seperti anak ayam kehilangan induknya, kebingungan dan ketakutan di tengah kesendirian di dalam kegelapan malam. Hanya bisa termenung dan menghibur diri dengan mendengarkan lantunan lagu-lagu penghibur untuk menghilangkan rasa sepi. Ada kalanya jika kepenatan begitu kurasakan, keluar mencari udara segar menjadi cara jitu untuk menghapus segala beban fikiran yang sedang kita rasakan sambil menikmati keindahan kota.

“Menjalani kehidupan penuh kemandirian, dan harus melewati suka duka sendiri agar menjadi pribadi yang kuat dalam menghadaapi segala masalah. Demi mencapai segala harapan dan cita-cita di akhir nanti.” Mungkin itulah sepenggal prinsip tuk memulai kehidupan baru disini. Sebagai penyemangat dan motivasi agar bisa menjalani semuanya.

Terkadang ada, saat dimana aku merasa butuh sebentuk perhatian dari orang tuaku untuk menyelesaikan masalah, tapi mereka tak ada, karena mereka sedang berada jauh disana dan tidak bisa membantu apa-apa. Saat aku merasa rindu untuk pulang ke rumah, tapi aku tak bisa, karena disinilah tempat yang karus kutempati sebelum segala mimpi dan cita-citaku terkabul. Saat tagihan-tagihan dan kebutuhan-kebutuhan hidup mulai terasa mencekik leher karena kiriman uang belum datang, aku hanya bisa menunggu, menunggu, dan menunggu, sambil memutar otak agar semua kebutuhan bisa tertutupi dan kehidupan tetap bisa berjalan sebagaimana mestinya. Saat malam terasa sangat sepi, ku hanya bisa melamun diri di teras depan kamar kost, atau berkumpul bersama teman senasib sambil memetikkan senar gitar dan bernyanyi untuk menghapus rasa sepi. Maka saat itulah hidup sebagai anak kost menjadi tidak menyenangkan.

Tetapi, tinggal sendiri membimbingku menemukan rasa tanggung jawab terhadap diriku, untuk menciptakan kehidupan yg lebih berarti. Membangun sikap disiplin waktu dan uang, agar kehidupan ku menjadi benar-benar teratur dan tersusun rapi. Semua itu akan membawaku menjadi pribadi yang baru. Disaat-saat itulah ku mulai bisa merasakan kesenangan hidup sebagai anak kost.

Dalam hal bergaul pun, aku harus pandai-pandai memilih teman, seperti kata pepatah…”Jika berteman dengan penjual minyak wangi, kita akan mendapatkan percikan minyak wanginya, dan jika kita berteman dengan tukang las, maka kita akan terkena percikan apinya”. Salah-salah, bisa terjerumus ke dunia kelam.

Tapi bagaimana pun kehidupan ku kini, do’a orang tua selalu menyertaiku meskipun kini ku berada jauh dari mereka. Aku selalu berusaha mengingat mereka setiap ku ingin melakukan suatu hal baru agar ku tidak salah melangkah, demi mengejar mimpi, demi masa depan cerah.

16-09-10/14-08-11

Tinggalkan jejak anda pernah berkunjung

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: