SAJAK SECANGKIR TEH

28 Des

teh

 

Hari berjalan tak terprediksi,

apa yang akan terjadi kini,

nanti,

atau kemudian.

 

Seperti secangkir teh di atas meja kehidupan,

siapa yang tahu rasanya,

siapa yang tahu seberapa hangat dan dinginnya.

 

Pahit,

tak berasa seperti kehidupan yang selalu dirundung masalah.

Menipu mata dengan merahnya kepalsuan,

mengelabui lidah dengan kepekatan dosa.

 

Manis,

berwarna merah,

semerah pipi ketika melihat malaikat tersenyum,

semanis cinta memberikan rasa dalam kehidupan.

 

Mendambakan hangatnya pelukan orang tercinta,

secangkir seduhan daun dari dataran tinggi senantiasa menggantikannya.

 

Secangkir kehangatan untuk melawan angin malam,

secangkir teh hangat untuk mencari kehangatan ditengah dinginnya malam,

seperti mencari manis dan hangatnya cinta di tengah kesendirian.

 

Dingin ketika mentari di ujung kepala.

Ubun-ubun mengepul bak ribuan derajat panasnya perut bumi.

 

Gerah menerpa,

keringat emosi mengalir pasti membasahi raga yang dehidrasi.

Sebagai sebuah kenikmatan surga,

mendinginkan panasnya api neraka.

 

Manis dan Pahit,

Hangat atau Dingin.

Seperti dua sisi mata uang yang tak terpisahkan.

 

Secangkir teh hari ini,

tak tahu rasa dan keadaannya sebelum kita mencicipinya.

Seperti berjalannya hari yang tiada seorangpun yang tahu sebelum kita menjalaninya.  

 

Indra Prasetyo

28-12-12

Tinggalkan jejak anda pernah berkunjung

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: