PELANGI DI SEBERANG JALAN

17 Feb

       Malam itu pelangi seperti muncul ditengah malam diantara cahaya bulan dan rintik-rintik hujan yang jatuh.

        Berjalan melewati malam bersama gadis pujaan dan melihat senyuman manisnya membuat jiwa terbang melayang. Aku berdiri di tepi jalan menunggu lampu lalu lintas berganti warna menjadi hijau dibawah lindungan payung yang diguyur hujan. Saat itu kami baru saja pulang setelah mengikuti acara kampus hingga cukup malam. Meskipun rumah kita berjauhan, tapi kami sama-sama melalui jalan yang sama. Tak tega aku membiarkan dia berjalan ditengah malam dan ditengah guyuran hujan seorang diri, aku pun memutuskan berjalan pulang bersamanya.

            Malam itu terasa begitu indah. Bersama seorang wanita impian dan sampai pada satu kesempatan berdiri berdampingan di depan tempat penyeberangan dengan wajah masing-masing dari kami tertunduk malu menunggu lampu lalu lintas berganti. Dari genangan air hujan yang disorot cahaya bulan, aku dapat melihat wajahnya. Genangan itu terlihat bagai cermin. Aku dapat melihat bagaimana wajahku dan wajahnya saling tersipu malu. Lampu hijau terasa begitu lama berganti, aku semakin gugup dan seolah dingin membeku berlama-lama berdiri disampingnya.  Aku yang sedikit kurang nyaman dengan keadaan yang seperti itu, kemudian berusaha menghangatkan keadaan dengan bersendau gurau bersamanya membuka pembicaraan menanti lampu hijau datang.

“bagaimana tadi acaranya? Kamu suka?” tanyaku.

Sambil tetap menunduk dia menjawab “ia aku suka, terimakasih ya sudah mengajakku”.

              Aku hanya tersenyum, wajahku memerah dan seketika tubuh ini bergetar kecil, mulai menghangat meskipun malam itu cukup dingin karena hujan. Tak lama setelah itu lampu hijau menyala, kami pun perlahan melangkahkan kaki diatas zebra cross menembus hujan malam itu menyebrangi jalan. Warna kuning kemerahan dari lampu kota malam itu yang remang temaram setia menerangi sepanjang perjalanan kami di tengah gelapnya malam.

           Malam yang sunyi terasa semakin sunyi karena sepanjang jalan kami tak banyak melakukan pembicaraan. Kami saling tersipu malu dan terdiam berjalan berdampingan. Di tengah perjalanan, dari kejauhan terlihat samar titik-titik cahaya yang berputar membentuk lingkaran besar. “lihat itu! Ada komidi putar!. sahutnya.

Seketika dia menarik tanganku dan berlari mendekati cahaya itu. Sambil terengah-engah tiba-tiba ia berhenti, berdiri dan terdiam menatap kearah atas. Aku yang masih terengah-engah menunduk kebawah menghela nafas karena kelelahan. Aku mulai merasa bingung kenapa ia tiba-tiba berhenti. Perlahan aku mengalihkan pandangan kearah wajahnya dan kudapati wajahnya terlihat begitu senang dan bahagia melihat komidi putar yang ada di sebuah taman hiburan malam itu.

          Dengan tersenyum senang ia menunjuk kearah komidi putar itu dan mengajak aku naik bersamanya. Aku yang senang bisa mendapatkan kesempatan itu segera membeli dua buah tiket dan menaiki salah satu dari komidi putar itu bersama-sama.

Perlahan komidi putar yang kami naiki bergerak semakin keatas, dan sesekali berhenti bergiliran sebelum tiba saatnya kami terhenti di tempat teratas. Dari situ aku dapat melihat pemandangan malam kota yang begitu indah. Aku yang terkesima melihat kota di malam hari semakin terkejut melihat ekspresi wajahnya. Dengan lepas ia menunjuk ke berbagai arah sambil berkata “lihat itu! Coba lihat ke sana!”. Dia terlihat begitu senang, sementara aku terdiam sedikit terkejut melihatnya. Dia yang sepanjang jalan terdiam malu tak berkata-kata, kini begitu bersemangat, aku seolah melihat orang lain dan bukan sedang bersamanya. Wajahnya terlihat begitu bahagia, dan aku hanya bisa tersenyum sambil berbisik dalam hati. “dalam keadaan seperti ini dia terlihat semakin cantik”.

             Tiba-tiba dia menatap ke arahku ketika aku sedang tersenyum bergumam dalam angan. “hey, kamu kenapa senyum-senyum?”. Aku yang kaget hanya dapat berkata “ah, tidak apa-apa”.

        Beberapa menit kami berada di ketinggian, perlahan komidi putar yang kami naiki bergerak turun dan kami pun menyudahinya. Sehabis menaiki komidi putar itu, ia masih terlihat senang dan terlihat begitu ceria, berbeda 180 derajat dari sebelumnya. Ia seolah merasa lepas, lupa dengan segala hal yang terjadi sebelumnya.

           Malam semakin larut, aku yang khawatir dengan kesehatannya jika ia pulang terlalu larut memutuskan mengajaknya untuk pulang. Dalam perjanan pulang, dia terus berbicara panjang lebar mengekspresikan kebahagiannya. Aku yang mendengar dia terus berbicara tak bisa berbuat apa-apa, hanya terdiam terpaku dan mendengarkannya dengan seksama. Sampai suatu ketika dia mulai menyadari bahwa dia terlalu berlebihan karena melihatku hanya terdiam. Dia kembali merasa malu-malu “oh, apakah aku terlalu berlebihan? Mengganggumu dengan segala pembicaraanku? Maaf!”. Aku yang sedang terdiam berusaha menanggapi perkataannya sambil tersenyum. “ah tidak kok. Aku justru senang melihat kamu seperti itu, begitu ceria dan bahagia. Sebelumnya kamu hanya diam, tapi setelah melihat komidi putar dan menaikinya kamu terlihat begitu senang”.  

     Dia seketika tertunduk malu, wajahnya memerah dan terbata-bata menjelaskan semuanya. “aku memang suka dengan komidi putar, jadi maaf bila keceriaanku ketika melihat komidi putar yang berlebihan mengganggu kamu”. “aku kan sudah bilang, aku suka melihat kamu ceria, jadi tidak masalah untukku jika kamu bertingkah seperti itu, haha”. Jelasku.

             Sepanjang jalan kami terus bercerita. Dia terus menceritakan bagaimana dia menyukai komedi putar. Rintik hujan perlahan kembali turun dan menemani kami berjalan menuju pulang. Kami semakin akrab dan terus bersendau gurau sepanjang jalan.

           Perjalanan saat itu terasa begitu singkat, mungkin karena kami semakin terbawa suasana. Kami yang semakin akrab bercerita bebas lepas, sehinga waktu terasa berlalu cepat. Tak selama perasaan ketika aku menunggu lampu hijau menyala dipersimpangan jalan. Saat itu kami saling membisu sehingga waktu terasa berjalan begitu lama, bahkan untuk sekedar menunggu lampu hijau menyala sekali pun.

             Tidak terasa kami tiba di depan sebuah halte bis. Dimana tepat di seberang jalan sana rumahnya berada. Kami berpisah di halte itu. Dia seketika terdiam, sebelum menyeberang dia berbicara menyampaikan sesuatu dan mengucapkan terimakasih kepadaku karena telah menemaninya malam itu.  “terima kasih ya sudah menemai aku!”. Aku yang senang bukan kepalang hanya bisa mengangguk dan melayangkan senyuman padanya.

          Dia pun kemudian menyebrangi jalan berjalan menuju gerbang rumahnya. Sementara itu, aku tetap berdiri di depan halte menunggu bis datang sambil memperhatikan langkah demi langkahnya beranjak dari halte bis menuju rumahnya. Dari seberang jalan, sebelum memasuki rumah, dia berhenti dan membalikkan badannya, melayangkan lambaian tangan sambil tersenyum.

         Bagiku, saat itu adalah saat yang indah. Dia yang diseberang sana terlihat berseri-seri bagai pelangi. Ya, seperti melihat indahnya pelangi di seberang jalan ketika malam hari. Sebuah kesempatan yang mungkin hanya satu kali dapat aku termui. Cantik wajahnya dan manis senyumnya malam itu lebih cantik dari wanita lain yang memakai gaun mewah dan berhiasakan perhiasan mahal sekalipun.

Indra Prasetyo

17-02-13

Tema : Merry-Go-Round
Kata Kunci : Pelangi, berputar, cermin, gaun, cahaya
project #MelodiHijauOranye @YUI17Melodies

Tinggalkan jejak anda pernah berkunjung

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: