GADIS DALAM KEGELAPAN

19 Feb

       Matahari di pagi itu terlihat begitu cerah, namun tidak begitu bagi seorang wanita cantik bernama Nami yang 1 tahun terakhir kehidupannya mendadak gelap gulita. Ya, pagi itu adalah hari dimana tepat setahun sudah semenjak kejadian kecelakaan yang menimpa dirinya itu membuat dia menjadi buta. Hidupnya seolah menjadi sempit, karena dia harus berjalan dalam kegelapan. Baginya hidupnya kini sudah hancur, karena tidak bisa melihat dunia ini lagi. Frustasi berat ia rasakan meratapi keadaannya yang seperti itu. Ia sempat menyalahi Tuhan yang dianggap tidak adil kepadanya “oh Tuhan, kenapa engkau memberi cobaan yang begitu berat kepada aku?”. Tapi disisi lain ia tetap meyakini, bahwa dibalik segala cobaan itu  Tuhan pasti sudah mempersiapkan rencana lain untuknya, dan Tuhan hanya tinggal menunggu sejauh mana dia dapat bersabar melewati cobaan itu.

         Setiap pagi, ia selalu meminta bantuan Genta kekasihnya yang setia menjaganya untuk menuntunnnya ke depan jendela kamarnya, dimana tempat itu adalah tempat favoritnya. Dari belakang jendela kamarnya itu, dahulu setiap pagi ia selalu melihat bagaimana mercusuar menjulang tinggi dipinggir pantai dan kupu-kupu terbang bebas mengelilinginya, baginya saat itu adalah saat paling indah.

    Meskipun kini matanya masih terbuka, namun sekarang semuanya menjadi gelap. Ia selalu ingin mengenang dan merasakan saat-saat seperti dulu, saat-saat dia tersenyum bersama kupu-kupu. Karena itulah setipa pagi ia meminta bantuan kekasihnya untuk menuntun dirinya berdiri di depan jendela kamarnya dan mengingat semuanya. Seringkali air mata tiba-tiba menetes dari matanya, ia selalu terharu ketika berdiri di tempat itu. Semuanya kini seolah menghilang dan telah tiada, dan kini semua itu baginya hanyalah mimpi. Melihat kupu-kupu terbang bebas dan tersenyum bersamanya adalah sebuah mimpi besar untuknya.

Kini dia hanyalah seorang gadis yang hidup dalam kegelapan, yang terus berjuang mencari setitik cahaya untuk menerangi hidupnya.

       Semakin hari Nami semakin terlalrut dalam kefrustasian, sempat terfikir dibenaknya untuk segera mengkahiri hidupnya. Pagi itu seperti biasanya dia meminta genta untuk menuntunnya ke depan jendela kamar, namun niat Nami pagi itu bukanlah untuk mengenang masa lalu, namun berusaha untuk mengakhiri hidup dengan melompat dari jendela kamarnya yang berada di lantai 2 rumahnya. Genta yang saat itu meninggalkan nami sebentar untuk mengambilkan sarapan untuknya, tidak habis fikir Nami akan melakukan hal sebodoh itu. Sehabis mengambil makanan dari dapur, genta kembali ke kamar Nami untuk mengantarkan sarapan pagi untuk Nami. Namun apa yang terjadi, setelah Genta membuka pintu kamar Nami, ia mendapati Nami sedang berusaha untuk melompat keluar jendela. Seketika piring sarapan yang sedang Genta bawa ia lepaskan dari tangannya dan segera berlari menyelamatkan Nami. “Nami! Apa yang kamu lakukan?!”. beruntung ketika itu genta berhasil menangkap dan memeluk nami sesaat sebelum ia melompat.

     Nami yang sudah kehilangan semangat hidup hanya bisa meluapkan emosi dan kesedihannya sambil menangis “untuk apa kamu menyelamatkan aku! Sudah tidak ada gunanya lagi aku hidup kalau hanya bisa menyusahkan orang lain saja! Menyusahkan kamu dan ibu!”

       Genta yang saat itu menatap wajah Nami, baru pertama kali melihat nami sesedih itu. Dengan rendah hati ia menasihati dan menenangkan nami “Nami, dengarkan aku. Tidak seharusnya kamu melakukan tindakan sebodoh itu. Kamu harusnya bersyukur masih diberi kesempatan hidup oleh Tuhan, tidak seperti teman kamu yang tidak terselamatkan ketika kecelakaan itu. Mereka disana mungkin sedih melihat kamu seperti ini, jadi tetaplah jalani hidup”. Seketika Nami pun terdiam tak berkata-kata, hanya menitihkan air mata kesedihan. Dalam benaknya ia menyadari kebodohannya itu, ia sangat bersyukur memiliki kekasih seperti genta yang selalu bisa mengertinya.

       Sejak saat itu, Nami semakin tegar menjalani kehidupan di tengah kegelapan. Kini Nami hanya bisa berkhayal dan bermimpi serta tetap terus menjalani kenyataan hidup ini apa adanya meskipun itu pahit. Ya, dia memang kini hanya bisa bermimpi, karena hari-harinya kini gelap seperti dalam tidur. Sejak saat itu ia berprinsip, “bahwa mimpi suatu saat pasti akan tercapai, yang terpenting adalah harus berjuang untuk mewujudkan mimpi itu”, meskipun kini ia hanya bisa meraba-raba jalan untuk menggapai mimpi itu.

   Segala usaha dilakukan oleh keluarga Nami untuk menyembuhkannya. Dari rumah sakit satu ke rumah sakit lainnya mereka datangi mencari cara terbaik menyembuhkan Nami. Dari setiap rumah sakit yang Nami datangi, ia selalu bertanya “apakah aku bisa disembuhkan dan akan bisa melihat lagi?”. Keluarganya yang tak mau Nami terbelenggu dalam kesedihannya lagi seperti dahulu berusaha untuk menyenangkannya dengan memberikan harapan palsu demi kebaikannya. Setiap kali pulang dari rumah sakit orang tuanya selalu berkata bahwa nami pasti bisa disembuhkan, dan hanya tinggal menunggu waktu. Dari sekian banyak rumah sakit di datangi, semua dokter mengatakan hal yang sama. Semua mengatakan “Nami akan bisa melihat lagi, ada dua cara untuk mengobatinya, pertama dia hanya butuh pendonor mata untuk mengganti matanya dan cara kedua dengan cara memperbaiki syaraf matanya yang rusak, namun cara ini beresiko tinggi mengancam nyawanya. Tidak ada cara lain selain kedua cara itu”.

        Suatu ketika dokter berbicara dengan orang tua nami. Nami yang sedang diperiksa oleh perawat tidak sengaja mendengar pembicaraan tersebut. Ia mendapat kesimpulan bahwa ada 2 cara untuk membuatnya kembali bisa melihat. Cara pertama dengan mencari pendonor mata.  Sesungguhnya cara ini memang cara terbaik, namun mengingat betapa susahnya mencari pendonor mata, terutama yang cocok dengan matanya menimbulkan kekhawatiran sendiri, dan hampir mustahil dilakukan. Sementara itu cara kedua sesungguhnya sangat beresiko karena harus memperbaiki syaraf matanya yang rusak, kemungkinannya hanya 2, gagal atau berhasil.

          Mendengar pembicaraan itu nami sedikit syok, karena semakin khawatir kalau ia tidak akan bisa melihat selamanya. Dari ruang perawat, dengan meraba berjalan perlahan menghampiri mereka. “dokter, mama, lakukanlah cara kedua. Apapun resikonya aku sudah siap. Aku tidak ingin berlama-lama menyusahkan kalian”. “tapi nami…” ibunya berusaha menjelaskan sebelum perkataannya di potong. Sambil tersenyum ia berkata “percayalah mama, aku tidak akan menyusahkanmu”.

     Orang tua nami yang tidak bisa berbuat apa-apa hanya bisa menuruti kemauan anak kesayangannya itu.

          Hari operasi pun tiba, semua persiapan sudah lengkap. Sebelum memasuki ruangan operasi nami berbicara kepada orangtuanya dan kekasihnya genta. “aku tidak akan menyusahkan kalian semua. Terima kasih karena selama setahun ini sudah mau menemaniku dalam kegelapan. Aku sayang kalian semua”. Tidak biasanya nami berkata seperti itu, orangtuanya dan genta hanya bisa terdiam berusaha mendoakannya. Masuklah Nami ke ruang operasi dan perjuangan Nami seketika itu di mulai. Keluarganya hanya bisa menunggu harap-harap cemas di luar ruangan menunggunya.

     Berjam-jam berlalu, sampai akhirnya lampu bertuliskan “operasi” yang sebelumnya menyala kini telah mati. Keluarlah dokter yang menangani operasi Nami dengan wajah gelisah menghampiri keluarga Nami. “bagaimana dokter? Apakah anak saya baik-baik saja?”. Tanya ibu Nami. “maaf bu, Nami tidak bisa tertolong, kerusakan syaraf matanya matanya semakin parah, syaraf matanya terputus. Kami yang semula tidak memperkirakan akan terjadi hal seperti itu sudah berusaha semaksimal mungkin memperbaikinya tapi tidak bisa memberikan yang terbaik bagi Nami, anak ibu tidak bisa kembali melihat. Kami mohon maaf”.

   Seketika keluarga nami bercucuran air mata mendengar penjelasan dokter. Segera setelah itu mereka mengantar nami menuju ruangan perawatan menunggu nami yang matanya masih diperban sampai sadar dan kesehatannya pulih.

     Beberapa hari kemudian Nami akhirnya pulih, dan waktunya perban matanya di buka. Nami seolah sudah tahu dengan semua yang terjadi. Dia berusaha untuk tegar sebelum perban itu dibuka. Perban pun di buka, perlahan Nami membuka matanya, dan…semua gelap. Ya nami kini benar-benar tidak bisa melihat untuk selamanya. Ia hanya menitihkan air mata dan tersenyum. “mama, maafkan aku ya, sepertinya aku akan tetap selalu merepotkan mama”. Mereka semua larut dalam kesedihan mendapati kenyataan seperti itu. Mereka semua memeluk nami dan menangis.

          Sejak saat itu nami telah benar-benar terjebak dalam kegelapan. Dia kini adalah seorang gadis yang selalu tersenyum dalam kegelapan. Senyum yang terang diantara gelapnya alam semesta selalu terpancar darinya, meskipun dunia ini tak lagi seindah yang dahulu dan tetap terus berjuang menjalani kehidupan serta terus bermimpi.

“Berjuanglah berjuanglah di hidup yang menyala
Teruslah hidup dengan kenyataan
Berjuang, selama kau terus berjuang setiap hari
Bunga akan mekar”

Indra Prasetyo

19-02-13

Tema : Fight
Kata Kunci : mercusuar, cahaya, semangat, khayalan, semesta
project #MelodiHijauOranye @YUI17Melodies

Tinggalkan jejak anda pernah berkunjung

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: